KETIKA SEGALANYA MEMUNGKINKAN KITA BELAJAR LEBIH CEPAT, TETAPI KITA JUSTRU SEMAKIN SULIT BELAJAR: REFLEKSI KRITIS ATAS PENDIDIKAN TINGGI INDONESIA MELALUI PEMIKIRAN BAGUS MULJADI
Keywords:
Pendidikan Tinggi, Analytic Autoethnography, Refleksi Kritis, Kapasitas Manusia, Administrasi PendidikanAbstract
Pendidikan tinggi berkembang dalam lingkungan yang semakin cepat. Teknologi berkembang, informasi semakin mudah diperoleh, dan tuntutan akademik maupun administratif terus bertambah. Namun, ada sebuah paradoks: kemampuan sistem untuk membuat proses belajar semakin cepat tidak selalu berarti manusia memiliki lebih banyak ruang dan kemampuan untuk benar-benar belajar. Tulisan ini berangkat dari pengalaman penulis sebagai mahasiswa dan kemudian sebagai dosen, serta dari percakapan publik mengenai makna pendidikan tinggi, khususnya pemikiran Bagus Muljadi tentang tujuan pendidikan, hubungan pendidikan dengan pekerjaan, dan pendidikan sebagai hak atau komoditas jasa. Tulisan ini menggunakan pendekatan analytic autoethnography dalam bentuk refleksi kritis. Bahan refleksi berasal dari pengalaman akademik penulis yang diingat kembali dan ditelusuri melalui catatan serta dokumentasi, kemudian didialogkan dengan sumber publik dan literatur akademik yang relevan. Hasil refleksi menunjukkan bahwa perilaku mahasiswa, dosen, dan institusi yang sering dianggap sebagai masalah pribadi dapat dipahami sebagai cara mereka menyesuaikan diri dengan tuntutan dan aturan yang mereka hadapi. Masalah muncul ketika tuntutan terhadap manusia dan institusi terus bertambah, sementara waktu, tenaga, dan kemampuan untuk mengikutinya tetap terbatas. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mewakili seluruh pendidikan tinggi di Indonesia, melainkan menawarkan pembacaan dari dalam sistem mengenai hubungan antara tujuan pendidikan, tuntutan kelembagaan, dan kemampuan manusia untuk belajar, mengajar, dan berpikir.
References
Akbar Faizal Uncensored. (2025, June 24). Negara dan kampus abaikan riset. Tawaran kekuasaan jadi magnet [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=3QdGrBWQCQw
Anderson, L. (2006). Analytic autoethnography. Journal of Contemporary Ethnography, 35(4), 373–395. https://doi.org/10.1177/0891241605280449
Bridgstock, R. (2009). The graduate attributes we’ve overlooked: Enhancing graduate employability through career management skills. Higher Education Research & Development, 28(1), 31–44. https://doi.org/10.1080/07294360802444347
Bourdieu, P., & Passeron, J.-C. (1990). Reproduction in education, society and culture (2nd ed.). SAGE Publications.
Calma, A., & Dickson-Deane, C. (2020). The student as customer and quality in higher education. International Journal of Educational Management, 34(8), 1221–1235. https://doi.org/10.1108/IJEM-03-2019-0093
Craig, R., Amernic, J., & Tourish, D. (2014). Perverse audit culture and accountability of the modern public university. Financial Accountability & Management, 30(1), 1–24. https://doi.org/10.1111/faam.12025
Edwards, J. (2021). Ethical autoethnography: Is it possible? International Journal of Qualitative Methods, 20, 1–6. https://doi.org/10.1177/1609406921995306
Fomba, B. K., Talla, D. F. N., & Ningaye, P. (2023). Institutional quality and education quality in developing countries: Effects and transmission channels. The Journal of the Knowledge Economy, 14(1), 86–115. https://doi.org/10.1007/s13132-021-00869-9
Indonesia. (1945). Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Institut Teknologi Bandung. (2022, March 17). Hibah riset RISPRO UKICIS: Cetak biru program transfer teknologi. https://itb.ac.id/berita/hibah-riset-rispro-ukicis-cetak-biru-program-transfer-teknologi/58489
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. (2026). Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2026 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 39 Tahun 2025 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi.
Marginson, S. (2016). The dream is over: The crisis of Clark Kerr’s California idea of higher education. University of California Press.
Mata Najwa. (2025, September 26). Kuliah, kerja, dan kenyataan [Video]. YouTube. https://youtu.be/UGU9mTMoSAM
Muljadi, B. [@bagus_muljadi]. (2026, January 28). Pertama, saya bukan "profesor termuda di Indonesia", ataupun di luar Indonesia. Kedua, poin yang saya sampaikan adalah bagaimana kontrol kualitas pendidikan seharusnya dilakukan [Post]. X. https://x.com/bagus_muljadi/status/2016494095133208839
Naidoo, R., & Whitty, G. (2013). Students as consumers: Commodifying or democratising learning. International Journal of Chinese Education, 2(2), 212–240. https://doi.org/10.1163/22125868-12340022
Nakano, S., Beaupré-Lavallée, A., & Bégin-Caouette, O. (2021). Accountability measures in higher education and academic workload: A ten-year comparison. Brock Education Journal, 30(2), 116–136. https://doi.org/10.26522/brocked.v30i2.872
Pertiwi, K., Izzati, N. R., & Oktaviani, F. H. (2026). From ibuism to pengabdian? Exploring invisible work among women academics in neoliberalised Indonesian higher education. Asian Studies Review, 50(2), 296–316. https://doi.org/10.1080/10357823.2026.2624395
Sparkes, A. C. (2024). Autoethnography as an ethically contested terrain: Some thinking points for consideration. Qualitative Research in Psychology, 21(1), 107–139. https://doi.org/10.1080/14780887.2023.2293073
Tight, M. (2020). Higher education: Discipline or field of study? Tertiary Education and Management, 26(4), 415–428. https://doi.org/10.1007/s11233-020-09060-2
University of Nottingham. (n.d.). Bagus Muljadi. https://www.nottingham.ac.uk/engineering/people/bagus.muljadi
Universitas Gadjah Mada. (2020, August 27). UGM tergabung dalam konsorsium perguruan tinggi Inggris-Indonesia. https://ugm.ac.id/id/berita/19960-ugm-tergabung-dalam-konsorsium-perguruan-tinggi-inggris-indonesia/
Wall, S. (2008). Easier said than done: Writing an autoethnography. International Journal of Qualitative Methods, 7(1), 38–53. https://doi.org/10.1177/160940690800700103
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Reza Luqman Hakim

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.



